Pulau Moti Kota Ternate

Pulau Moti

Pulau Moti adalah salah satu kecamatan Kota Ternate. Moti hanya memiliki enam kelurahan, yaitu kelurahan Tafaga, kelurahan Figur, kelurahan Tafamutu, Kelurahan Tadenas, kelurahan Takofi dan kelurahan Moti Kota.

Penduduk di pulau ini kebanyakan berasal dari Tidore dan Makean. Bahasa pun demikian. Mata pencaharian ada yang nelayan, petani, juga bekerja di pemerintahan maupun swasta.

Uniknya hampir tiap kelurahan di pulau ini memiliki pelabuhan kecil penyeberangan. Ada juga pelabuhan untuk kapal Feri yang ada seminggu sekali. Terkadang diwaktu senggang. Pagi ataupun sore terlihat ramai penduduknya menghabiskan waktu di pelabuhan kecil tersebut. Ada yang menjajakan jualannya’ tiap kapal yang datang, atau sekedar menjemput handai taulan yang datang dari seberang.

Pulau ini pun memiliki beberapa objek wisata yang patut dikembangkan oleh masyarakat maupun pemerintah kecamatan. Semisal pantai Tafamutu yang dikenal oleh penduduk setempat dengan pantai kahona. Tak jauh dari pantai tersebut terdapat pelabuhan kayu kecil berbentuk jembatan panjang dekat pantai. Suasana matahari terbenam sangatlah indah jika dinikmati dari jembatan ini. Sinar matahari yang tenggelam dengan warnanya yang meronda memanjakan mata para pemburu “sunset”. Selain itu dikelurahan Tadenas ada salah satu tempat bersejarah yang biasa disebut Moti Vernon tempat perjanjian para raja di Moloku Kie Raha. Ada sebuah batu besar sebagai bukti sejarahnya. Batu tersebut amatlah besar melampaui tubuh orang dewasa. Dan yang terakhir adapula hutan Mangrove yang terletak tidak jauh dari tempat tersebut.

Pulau ini kecil namun indah. Disini pun banyak terdapat buah mangga. Jika berkunjung dipulau ini bagusnya diperhatikan musim buah mangga juga. Kelak setelah jalan-jalan sebagai ole ole pulang ada buah mangga yang tentu dijual sangat murah.

Segitu aja SoNaCarita tentang pulau Moti…semoga bermanfaat …

Berikut adalah beberapa dokumentasi saya selama berada di Pulau kecil ini

Jembatan Tafamutu di Kelurahan Tafamutu sambil menikmati kelapa muda sunset memanjakan mata
Membeli ole ole buah mangga di pelabuhan Takofi
Prasasti perjanjian para raja ‘Moti Verbon’ di Kelurahan Tadenas
Pantai Tafamutu/Pantai Kahona Kelurahan Tafamutu
Pelabuhan Takofi kelurahan Takofi

Diam dalam Harap

Foto diambil di Area Wisata Danau Tolire Besar Kota Ternate

Diam disini tanpa banyak bertanya lagi…tanpa mau banyak terbebani lagi galau yang terkadang datang mendera…

Tak mau lagi ku izinkan rasa ‘tidak sedapnya ‘ pikiran menghiasi hari ku

Aku hanya ingin tetap positif walau apapun yang terjadi….

Berkali-kali ku ingin menengadahkan kedua tangan ini kepadaNya.

Meminta penuh harap dan berharap pinta ku itu menjadi sebuah kata “makbul’

Namun terkadang gagal dengan segala kata “malas” yang mendera.

Gagal dengan penundaan waktu yang selalu menjadi “argumen’ hati yang dimenangkan oleh kondisi.

Kali ini, tak boleh lagi ada kata “malas dan penundaan waktu untuk tetap menengadahkan tangan kepadaNya.

Tak boleh lagi, berharap selain kepadaNya. Karena kalau selain KepadaNya yang kau dapatkan adalah hinaan dan ‘ghibah’ yang siap kau terima.

Kali ini, TIDAK !!! kembali ku kumpulkan semangat dan harapan itu lagi. Diamku penuh harapan kepadaNya. Semoga diamku bermakna.

Percaya saja, senja yang kemarin tenggelam pun akan tergantikan dengan terbit nya matahari yang indah di pagi hari….

Hidup memang seperti itu. Jika sudah tahu tentang tindak tanduk kehidupan. Tak perlulah kau risaukan. Cukup saja berharap dalam diam. Berharap dalam doa agar engkau mampu melewatinya.

#BahagiaKanDatangMenyapaDalamHarapanKepadaNya

Belum Juga aku … Namun aku yakin aku Bisa …

Yang menjadi kekuranganku belum bisa ku bersihkan jiwa dan pikiran dari berpikir buruk tentang orang-orang sekitar. Belum juga bisa ku bersihkan jiwa untuk berbuat ikhlas tanpa mengharap balas dan mengharap dihormati. Belum juga bisa ku hilangkan sifat kekanakanku yang terlalu BAPER dan sensi terhadap perlakuan orang terhadapku. Belum juga bisa ku bersikap cuek terhadap yang kritis kepadaku dan yang menjadi munafik dibelakang ku. Belum juga bisa ku bersihkan batin ini dari segala dendam kesalahan orang kepadaku. Ingin rasanya semua hilang. Dan kembali ku menjadi pribadi yang tangguh,  yang jiwanya dan pikirannya positif dan membawa kebaikan kepada orang-orang sekitar. Benar adanya orang berkata terkadang kita berbuah apapun selalu dianggap salah oleh orang-orang sekitar. Yang baik tetap disalahkan apalagi yang salah? HM, berkali lipat penghakiman pikiran mereka.
Dan, kali ini aku harus kembali bersiap untuk bangkit melawan semua yang menjadi rongrongan. Jangan takut pada apapun yang ada di depan. Tetap saja minta jalan kemudahan kepada Yang Memberi Kemudahan. Dan Bismillah Go For Success…Insa Allah.

Filonga, Pulau Kecil nan Indah

Filonga adalah sebutan untuk pulau kecil ini oleh masyarakat Maluku Utara. Namun nama yang sebenarnya adalah failonga. Pulau ini terletak di antara pulau Tidore dan Sofifi Halmahera. Jika posisi kita berada di Tidore maka letak pulau ini pas didepan pusat keramaian kota Tidore yaitu Soa-Sio, namun jika kita dari menyebrang ke ibu kota propinsi Maluku Utara maka seakan kita melihat pulau ini terletak ditengah, antara Sofifi dan Tidore.

Pulau Filonga biasanya ditempuh dengan menggunakan Speedboat ataupun perahu tradisional/katinting. Jika ditempuh dari Kota Ternate maka waktu tempuh adalah sekitar 20-30 menit. Akan lebih singkat lagi jika di tempuh lewat Soa-Sio Tidore, mungkin diperkirakan hanya sekitar 15-20 menit.

Pulau ini memiliki pasir putih dan kerikil putih. Batu-batu hitam terjal hampir mengelilingi pulau ini. Ada sebuah dermaga kecil tempat berlabuh perahu-perahu ataupun speedboat. Biasanya yang menjadi daya tarik disini adalah keindahan bawa lautnya. Bagus untuk pecinta “snorkling”. Batu karang dan berbagai biota laut dengan berbagai variasi menghiasinya. Untuk nelayan biasanya dipulau dijadikan tempat untuk istirahat sejenak. Wisatawan yang hobinya mancing biasanya juga menyalurkan hobi untuk memancing didepan pulau kecil ini. Ada juga beberapa kuburan suci yang ada tepat dibagian atas pulau ini. Kuburan suci ini disebut oleh orang Maluku Utara dengan istilah Jere’. Biasanya kalau orang yang sudah tahu, pada saat berkunjung ke pulau ini mereka membawa daun pandan dan air untuk ziarah di ‘Jere tersebut.

Untuk anda yang ingin menambah koleksi foto di media sosial anda. Tak salah lagi untuk memilih pulau filonga ini sebagai tempat untuk dikunjungi karena anda tidak akan menyesal dengan sajian alam lautnya nan indah…

Halida#SoNaCarita

Halmahera ku

Foto di ambil di Pulau Pastofiri Halmahera Barat

Aku bukan orang Halmahera. Namun, banyak keluargaku yang mendiami pulau nan indah ini. Domisiliku di Ternate, dibesarkan dan dididik di Ternate. Namun, tentu aku tak bisa lepas dengan kehidupan sehari-hari orang-orang yang ada di Halmahera. Kebanyakan yang mendiami kota Ternate. Penduduknya berasal dari pulau Halmahera. Kami hidup berdampingan dalam keberagaman budaya. Kami hidup penuh dengan kedamaian.

Ada hal menarik yang paling aku suka jika berkunjung di pelosok Halmahera. Budaya penghargaan kepada tamu sangatlah tinggi nilainya. Terkadang orang yang baru dikenal saja, disuguhkan makanan dan minuman.

Walau terlihat sederhana namun kebersahajaan dan keikhlasan mereka yang tak bisa dipungkiri. Membuat kita sebagai tamupun merasa bagaikan raja yang dilayani pelayanannya. Ternyata filosofi “tamu sebagai raja” sudah diterapkan dari zaman dahulu oleh penduduk yang mendiami pelosok Halmahera. Anggapanku, tak akan ada yang kelaparan jika kau mendatangi pulau yang penuh dengan kekayaan alam ini. Dikarenakan betapa baiknya hati-hati orang Halmahera kepada orang luar. Betapa santunnya pelayanan mereka.

Selain itu, halmaheraku juga memiliki pemandangan yang indah. Beberapa diantaranya sementara menjadi objek pengembangan pariwisata. Bagaikan maldives’nya Indonesia. Pantainya yang dihampari pasir putih. Airnya jernih sebening kaca. Hamparan pohon kelapa menjadi pelengkap keindahan pulau yang dipeta seperti simbol huruf K ini.

Tapi ku yakin, ada juga di beberapa tempat di Indonesia yang memiliki budaya yang sama selain halmaheraku. Memiliki budaya menjamu tamu dan memiliki keindahan alam nan pesona. Karena kita Indonesia. Tentu kita akan satu dalam keberagamannya.

Halmaheraku, Indonesiaku….

Abdi Yang Setia

Nenek pemotong “bunga rampe” di Kedaton Kesultanan Ternate

Hari ini janjian dengan salah satu pemilik UKM kota Ternate. Membantu ponakan karena ada tugas dari sekolahnya. Tugasnya mewawancarai salah satu pemilik UKM. Kebetulan aku punya teman, dan meminta kesediaannya untuk bisa bertemu. Temanku ini bersedia, bertemu di pendopo Kedaton Kesultanan Ternate karena kebetulan dia juga ada kegiatan disana.

Pagi tepat jam 09.00 WIT kami bertemu. Di depan pagar terlihat seorang nenek yang turun dari mobil. Oh aku mengenal beliau, kenal sekali. Iya, beliau seorang pemotong bunga di Kesultanan Ternate. Biasa orang Ternate menyebut dengan “potong bunga Rampe’. Sesaat kemudian aku menghampirinya, dan menyapa kemudian memberi salam. Sebelumnya kami pernah bertemu. Saat pertama bertemu, kami ber’swa foto dengan bule. Setelah berfoto nenek tersebut meminta untuk di cetak fotonya. Sedikit bercerita, bahwa jika beliau menceritakan kepada anak cucunya dirumah. Kalau beliau sering diminta foto oleh ‘orang bule’. Terkadang mereka tak percaya. Tapi mungkin sebenarnya mereka percaya. Itu hanya gurauan antara nenek dan cucu.

Kembali ke tadi, saat menyelaminya. Ku katakan “nenek masih ingat?”, Saya yang pernah bertemu dengan nenek sebelumnya. “Berfoto dengan bule waktu itu”, ku tambahkan sedikit informasi agar beliau mengingatnya. Benar adanya beliau ingat. Beliau berkata “mana foto yang dicetak?” Sembari menagih janji. Aku pun meminta maaf karena belum mencetak. Kembali berjanji untuk segera mencetak dan memberikan kepada beliau. Alhamdulillah beliau mengerti dan akan menunggu hasil cetakan foto dariku.

Saat memasuki halaman pendopo kesultanan bersama nenek. Ku lihat beberapa petugas kesultanan’ sama seperti nenek. Telah menyiapkan berbagai macam jenis bunga yang semerbak harum baunya. Nenek tersebut duduk dan menjalankan tugasnya. Informasi dari beliau bahwa sudah lama menjadi profesi ‘pemotong bunga rampe’ dalam kesultanan Ternate. Bunga Rampe’, yang sudah di iris biasanya di tabur di beberapa ‘tempat yang dianggap sakral’. Biasanya dilakukan pada Minggu malam/malam senin, Rabu Malam/Malam Kamis, dan Kamis Malam/ Malam Jumat.

Bukan hanya nenek sendiri yang menjalani profesi ini. Ada beberapa diantaranya, sudah berpuluh tahun mengabdi kepada pihak kesultanan. Mereka bertugas tanpa dibayar dan tanpa pamrih. Dilakukan tugas tersebut dengan penuh ikhlas dan pengabdian. Sulit bagiku membayangkan bagaimana jiwa mereka yang penuh dengan kebersihan jiwa tak dikotori oleh sebagian pikiran-pikiran manusia milenial yang jika bekerja harus ada balas yang di tuai. Mereka ikhlas tiap Minggu, tiap bulan, tiap tahun, tanpa mengenal pensiun dalam tugas mereka.

Lihat saja nenek ini. Secara fisik sudahlah tua, dan memutih rambutnya. Namun, jiwanya masih semangat dalam sebuah pengabdian. Pengabdian dari seorang abdi kepada rajanya. Walaupun sang raja sudah tiada. Mereka masih setia mengiris potongan-potongan bunga tersebut. Memberi keharuman disetiap titik sudut Istana Kesultanan Ternate.

Sehat selalu nek. Segera akan ku tunaikan janji mencetak fotomu…